Resume Artikel Ilmiah “The Existence of Accounting on Local Trade Activity in the Majapahit Kingdom (1293 AD -1478 AD)”
Artikel berjudul "The Existence of Accounting on Local Trade Activity in the Majapahit Kingdom (1293 AD - 1478 AD)" mengeksplorasi praktik akuntansi dalam aktivitas perdagangan lokal selama periode Kerajaan Majapahit di Indonesia. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode arkeologi untuk menginterpretasikan bukti-bukti sejarah terkait praktik akuntansi pada masa tersebut. Pendahuluan artikel ini menekankan bahwa akuntansi tidak hanya berkaitan dengan perhitungan angka dan pencatatan, tetapi juga mencakup dimensi sosial, budaya, dan ekonomi yang lebih luas. Kerajaan Majapahit, sebagai salah satu kerajaan terbesar di Indonesia, memiliki sistem ekonomi dan sosial yang kompleks yang tercermin dalam berbagai prasasti dan artefak sejarah.
Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini melibatkan analisis data dari artefak dan teks yang ditemukan di situs arkeologi seperti Trowulan, yang dikenal sebagai pusat Kerajaan Majapahit. Data yang dianalisis mencakup bangunan peninggalan, prasasti, dan mata uang yang digunakan pada masa itu. Analisis dilakukan dengan menghubungkan temuan-temuan ini dengan teori akuntansi modern untuk mengungkapkan bagaimana akuntansi mungkin telah dipraktikkan di kerajaan tersebut.
Temuan utama dari penelitian ini mencakup beberapa aspek penting. Pertama, aktivitas perdagangan lokal di Majapahit berpusat pada pasar, yang dikenal sebagai "pken". Pasar ini memiliki peran penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat Majapahit dan biasanya terletak di lokasi strategis seperti tepi sungai atau jalan utama. Raja mengatur pasar dan memastikan keamanan serta kelancaran transaksi, dengan pengaturan waktu pasar yang mengikuti sistem kalender lima hari, yang mencerminkan kepercayaan kosmologis masyarakat saat itu.
Kedua, komoditas utama yang diperdagangkan di pasar Majapahit termasuk hasil pertanian seperti beras, buah-buahan, dan produk hewan ternak. Proses transaksi dilakukan melalui interaksi langsung antara penjual dan pembeli, dengan konsep "tuna sitik bathi sanak" (kehilangan uang sedikit untuk mendapatkan relasi) yang menekankan pentingnya hubungan sosial selain keuntungan finansial. Ketiga, transaksi di pasar dilakukan dengan menggunakan mata uang yang disebut "kepeng", yang terbuat dari logam seperti tembaga dan kuningan. Mata uang ini dipengaruhi oleh keberadaan komunitas Tionghoa di wilayah Majapahit, dan temuan artefak seperti celengan tanah liat di daerah Trowulan menunjukkan bahwa tradisi menabung sudah dikenal pada masa itu.
Keempat, pajak yang dikenakan pada barang-barang yang diperdagangkan dan hasil pertanian menjadi salah satu sumber pendapatan kerajaan. Pajak ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber pendapatan tetapi juga sebagai mekanisme untuk mengatur pasar dan memastikan stabilitas ekonomi. Kerajaan memberikan jaminan keamanan bagi para pedagang yang membayar pajak, dan raja bertindak tegas terhadap petugas pajak yang melakukan penyimpangan.
Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa praktik akuntansi telah ada dan terintegrasi dalam aktivitas perdagangan lokal di Kerajaan Majapahit. Akuntansi tidak hanya terbatas pada perhitungan ekonomi, tetapi juga berperan dalam menciptakan harmoni sosial melalui pengaturan pasar dan sistem pajak. Meskipun bukti-bukti langsung yang tersedia terbatas, interpretasi dalam studi ini memberikan wawasan mengenai bagaimana akuntansi mungkin telah berfungsi dalam konteks sejarah yang spesifik ini. Studi ini juga menyoroti bahwa akuntansi pada masa lalu tidak hanya berfungsi sebagai alat ekonomi, tetapi juga sebagai sarana untuk mempertahankan keseimbangan sosial dan politik dalam masyarakat. Namun, keterbatasan data arkeologis yang tersedia membuat interpretasi ini tetap terbuka untuk eksplorasi lebih lanjut di masa depan.
TUGAS PKKMB : Rizky Fathan Ramadhan
Komentar
Posting Komentar